Prisma Newton di Zona Fisika Taman Pintar Yogyakarta

Student Internship |
at Diwangkoro Studio Architecture | RBB. Diwwangkoro, IAI. |
Taman Pintar Yogyakarta

Pengelola Taman Pintar Yogya berencana memindahkan Alat Peraga Zona Fisika ke area baru di dekat ram memutar. Kemungkinan tujuannya agar secara tematik, terlihat menerus karena di ramp adalah zona pamer untuk Sistem Tata Surya dan Planet-planet, Termasuk penjelasan tentang awal terbentuknya alam semesta, Teori Bing bang, hingga profil Stephen Hawking yang fenomenal itu.


Sayangnya ruang yang tersedia adalah seperti trapesium dengan salah satu sisinya melengkung (lihat gambar layout/ rencana lantai) karena posisi ramp. Saya yang awalnya hanya diminta untuk ikut survey, mengukur dan menggambar ulang eksistingnya, akhirnya diminta juga mendesain, sebagai alternatif lain.


Dari obrolan dengan principal mengenai teori fisika, kali ini kita tidak bisa menggunakan konsep fisika modern seperti yang pernah dipakai Pak Diwangkoro ketika juara 3 sayembara Plaza Quantum di FT Universitas Indonesia karena berdasarkan survey dan dokumentasi alat peraga, semuanya adalah alat peraga Fisika Klasik. Kemudian saya mencoba mencari teori-teori Fisika klasik hingga bertemu dengan Newton pada percobaaan prismanya.

Newton melakukan percobaan memberikan sinar ke prisma pejal, ternyata sinar yang tembus berupa berkas sinar berwarna pelangi. Konsep prisma yang dalam 2 dimensi berbentuk segitiga ini saya rasa sesuai dengan konteks site yang cenderung seperti segitiga.


Saya ingin menghadirkan elemen interior di Taman Pintar Yogyakarta ini tidak hanya sebagai pemanis alat peraga, tapi merupakan alat peraga itu sendiri. Maksudnya elemen interior pada tiap zona juga mencerminkan / menceritakan tentang zona tsb.  Maka saya membayangkan di zona fisika tersebut --selain alat peraga yang sudah ada-- terdapat prisma-prisma yang tergantung (sebagai plafon) atau menempel (di dinding/lantai) yang memantulkan cahaya berwarna  seperti percobaan Newton di atas.


Setelah beberapa kali konsultasi dan arahan langsung dari Pak Diwangkoro, IAI, desain yang dihasilkan adalah prisma-prisma putih yang ritmik. Dinding disamarkan dengan di cat hitam, sehingga prisma-prisma yang tergantung diatas maupun menempel di dinding terlihat menerus, menghilangkan sekat, tidak ada lagi pembagian mana dinding mana plafon. Pada prisma diberi coakan segitiga akrilik sehingga sinar akan memancar bersilangan warna-warni (merah kuning hijau dipilih sebagai warna dasar).


Lantai didesain segitiga hitam-putih yang kompisisinya merupakan invers dari permainan solid-viod pada plafond. Pasca presentasi di hadapan pengelola, desain ini mengalami beberapa revisi dan pengembangan, seperti pada kolom diberi gubahan prisma sebagai point of view, diperjelas desain signage-nya juga disusun ulang urutan alat peraga yang ditampilkan agar ceritanya runtut.

Principle: RBB. Diwangkoro, IAI.
Pemenang I Sayembara Masjid Suramadu, dan
Sayembara PerPusNas yang belum lama ini (2017) diresmikan Presiden Jokowi.
Salah satu masterpiece nya adalah Pertamina Tower FEB UGM yang ikonik.

Terimakasih atas bimbingan dan ilmunya yang sangat-sangat tak ternilai buat saya, telaten sekali untuk ukuran arsitek kelas nasional.

Comments

Popular Posts